Search
Close this search box.

Buruh Baru dan Tuan Asing yang Bermain Mata

Buruh Baru
Desain ilustrasi oleh by Freepik.com

Namaku Mala Sekar Harum, berusia 21 tahun. Aku memiliki tinggi badan 159 centimeter dan berkulit sawo matang. Sehari-hari aku menggunakan kacamata dan berjilbab. 

Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, lahir dari keluarga petani di Desa Tirem, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan. 

Bapak dan ibuku bekerja sebagai petani di daerah Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka berdua bekerja di lahan sendiri. Lahan garapannya merupakan warisan dari orang tua ibuku. Maklum, ibu berasal dari Kalimantan Tengah. 

Sekali waktu bapak dan ibu harus pergi ke Kalimantan Tengah untuk menengok lahan garapannya. Penghasilan kedua orang tuaku dari hasil bertani sekitar lima koma delapan juta sebulan. Uang itu digunakan seutuhnya untuk kami berlima hidup.

Namun, hasil panen tidak selalu menentu, karena bertani bukan seperti buruh yang menerima upah pasti setiap bulan, sehingga ketika penghasilan menurun, kami harus bersiasat untuk bisa melanjutkan hidup. 

Hingga kemudian aku berkuliah. Hasil panen tidak bisa mencukupi untuk membayar kebutuhan pendidikanku. Karena itu, selama kuliah, aku harus mencari penghasilan sendiri. 

Berawal dari bulan Desember 2021. Saat itu aku sedang melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) di suatu desa, daerah Purwodadi. Sebuah pesan Whatsapp mendarat di ponsel, 16 Desember 2021. Pesan yang berisikan undangan wawancara kerja pada 17 Desember 2021, pukul 07:30 WIB, di PT Sai Apparel Industries Grobogan.

Kabar itu membuatku senang sekali. Bergegas langkahku menghampiri teman-teman, dengan maksud meminta ijin untuk tidak ikut kegiatan KNN pada esok harinya. Tawaran pekerjaan itu harus kudapatkan untuk kebutuhan hidup dan membayar pendidikan. 

Setiap enam bulan, aku harus mendapatkan uang sebesar Rp 3.000.000. Dana tersebut kugunakan untuk membayar uang kuliah semesteran. Di samping itu, aku juga harus menyiapkan dana lainnya untuk kegiatan KKN. Dalam waktu dekat ada sekian dana yang juga mesti dikeluarkan untuk membayar wisuda. Aku juga memiliki biaya angsuran motor sebesar Rp 750.000 setiap bulan. Semua biaya itu harus aku siapkan. 

Setelah kujelaskan tentang kebutuhan hidupuku, akhirnya teman-teman memberikan ijin agar aku bisa mengikuti wawancara kerja. 

Pagi harinya, sekitar jam enam pagi, dengan menggunakan sepeda motor, aku meninggalkan kosan menuju lokasi wawancara. Sekitar pukul 06.45 WIB, aku tiba di PT Sai Apparel Industries. Setibanya di depan pintu pabrik, langkahku dihentikan oleh seorang satpam. Dia bertanya, “Ada keperluan apa Mbak?”

“Ini Pak … aku dapat panggilan untuk interpiu,” jawabku.

“Bisa dilihat bukti whatsapp-nya?

“Bisa Pak … silahkan,” balasku sembari menunjukan pesan undangan wawancara kerja melalui ponsel. 

Setelah kuperlihatkan, ia memberikanku ijin untuk memasuki area pabrik. Pak Satpam juga mengarahkanku untuk memarkir sepeda motor terlebih dahulu, lalu memintaku untuk menunggu di ruang tunggu yang sudah disediakan.

Di ruang tunggu telah ada beberapa orang lainnya, sesama perempuan, yang juga mengikuti wawancara kerja. Jumlah mereka sekitar 35 orang.

Tak lama kemudian salah seorang perempuan datang. Dia mengenakan pakaian rapi ala kantoran berwarna hitam. Jilbabnya berwarna biru dengan sepatu high heels berukuran yang tidak terlalu tinggi. Sebuah buku catatan ditenteng mengapit di antara sela tangan kanannya.

Perlahan perempuan itu menghampiri kami. Ia memerintahkan kami untuk berdiri dan berbaris rapi. Setelahnya, ia memperkenalkan diri.

“Selamat pagi Ibu-Ibu,” sapanya sambil melemparkan senyum kepada kami.

“Selamat pagi juga,” jawab kami serempak para buruh baru.

“Perkenalkan namaku Retno Kasuri. Aku staf HRD yang bertugas menerima karyawan baru di sini … selamat datang di PT Sai Apparel Industries Grobogan … aku akan membagikan buku kepada kalian semua.” 

Setelah membagikan buku kecil tersebut, Retno menjelaskan tentang isi buku. Ia berkata, “Jadi ini adalah buku peraturan perusahaan yang ada di Apparel Industries Grobogan … nanti kalian akan baca per bab, setiap orang bergantian. Akan ada satu orang maju ke depan untuk memimpin membaca, agar kalian memahami aturan apa saja yang berlaku di perusahaan ini … apakah bisa dimengerti ?” tanya Bu Retno.

“Mengerti Bu …” ucap kami serempak. 

Setelah itu kami mulai membaca bergantian, sedangkan Bu Retno meninggalkan kami tanpa berpamitan.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 10.00 WIB, kami selesai membaca buku peraturan perusahaan tersebut. Karena lelah berdiri, kami duduk di lantai, sembari menunggu Bu Retno datang kembali. Kurang lebih 10 menit, ia datang kembali ke ruang tunggu.

Kami pun bergegas berdiri dengan posisi seperti sebelumnya. Bu Retno lalu meminta kami semua untuk mengembalikan buku peraturan kepadanya. Bersamaan dengan itu, dia bertanya kepada kami, “Apakah ada yang ingin ditanyakan soal buku peraturan?” 

Kami menjawab, “Tidak Bu.”

Tak lama kemudian, seorang pria datang ke ruang tunggu. Dia lalu berdiri di samping Bu Retno.

Lelaki itu berperawakan tinggi, berkulit sawo matang, memakai baju batik, dan bercelana hitam. 

Dia memperkenalkan diri, “Selamat siang Ibu-Ibu.” 

“Siang Pak,” jawab kami.

“Perkenalkan aku Junaidi Utomo, aku dari Semarang, adalah HRD di sini, apakah sudah dibaca buku peraturannya?” tanyanya kepada kami.

“Sudah Pak,” balas kami singkat.

“Baik … aku akan menjelaskan lagi mengenai aturan lain di perusahaan ini. Dikarenakan perusahaan baru dan masih proses pembangunan juga belum selesai, maka dari itu karyawan baru akan di-training selama satu bulan, dengan waktu kerja setengah hari. Upahnya Rp 30.000 dan selama training akan digilir dua sif per minggu.

“Sif pagi dari pukul 07.00 – 12.00 WIB dan sif siang 12.00 – 17.00 WIB. Nah … setelah tahapan training dikatakan lolos, Ibu-Ibu akan mendapatkan kontrak kerja selama tiga bulan. Begitu Ibu, sistem dari kami. Apa ada yang ditanyakan lagi?” jelas Junaidi.

Ketika dijelaskan saat itu aku tercengang. Dalam hati bertanya-tanya mengapa di-training setengah hari ya? 

Tak ada satu orang pun di antara kami yang mengacungkan tangan untuk bertanya kepada Junaidi. Semua orang terdiam tanpa kata. Akhirnya, karena tidak ada yang bertanya, Junaidi kembali berkata,

“Jika ada yang tidak terima sistem kami, silahkan pergi dan jangan bekerja di sini!” ancam Junaidi dengan nada meninggi.

Mendengar itu, aku hanya tertegun dan menelan ludah. Sebenarnya, ada yang hendak aku tanyakan, tapi rasanya takut. Aku takut pertanyaan yang disampaikan malah menyinggung perangainya, sehingga bisa saja dia membatalkan status penerimaan kerjaku. Sementara, aku butuh pekerjaan ini.

Pikirku semua orang mau bertanya, namun mungkin perasaan mereka sama sepertiku, takut. Alhasil, tak ada satu patah kata pun terucap dari mulut mereka. Setelah itu, Junaidi berpamitan dan meninggalkan kami.

Kini giliran Retno mengambilalih pembicaraan. Katanya,

“Ketika kalian nanti telah lolos training dan mendapatkan kontrak tiga bulan, kalian akan mendapatkan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan juga. Dan, karena waktu sudah menunjukan pukul 11.00 WIB, kalian diperbolehkan pulang. Besok kembali ke pabrik untuk mulai bekerja,” jelas Retno. 

“Besok, pukul 07.00 WIB pagi hari, jangan lupa membawa kembali berkas lamaran dengan dokumen lengkap seperti saat melamar pertama kali di sini. Pertemuan hari ini ditutup. Selamat siang dan terimakasih,” sambung Bu Retno sekaligus mengakhiri pertemuan hari itu.

Ada beberapa pernyataan Bu Retno yang membuatku bertanya-tanya, tentang kenapa kami harus mengumpulkan berkas lamaran kerja kembali? Padahal Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) telah kami berikan. Begitu juga surat keterangan sehat dari dokter juga telah kami kumpulkan. Semua itu menjadi pertanyaanku yang tak pernah terjawab. 

Siang itu, setelah masa pengenalan rampung, aku bergegas pergi menuju desa tempat KKN.

Esok hari, 18 Desember 2021, pukul 04.30 WIB, aku terbangun. Seperti hari-hari biasanya aku melaksanakan ibadah sholat Subuh. Kemudian, mandi, menyetrika pakaian dan jilbab. Rutinitas ini kulakukan hampir setiap hari. Lepas menyiapkan pakaian, tak lupa pula aku memanaskan kendaraan sepeda motor.

Aku tidak sempat sarapan, karena jam 06.00 WIB, aku sudah harus berangkat ke pabrik. Sementara, kami yang tinggal di desa tempat KKN, belum sama sekali memasak. Biasanya kami mulai memasak sarapan pagi jam 07.00 WIB. Kemudian, dilanjutkan makan bersama pada 08.00 WIB. 

Meskipun belum sarapan, aku tetap memutuskan untuk berangkat ke pabrik. Sekitar pukul 06.45 WIB, aku tiba di lokasi kerja. Segera aku melangkah menuju ke ruang tunggu dan memarkirkan kendaraan sepeda motor.

Sembari menunggu Bu Retno datang, aku berkenalan dengan kedua perempuan. Mereka bernama Putri dan Elma. Keduanya, berasal dari Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Rumah mereka dekat dengan pabrik PT Sai Apparel Industries Grobogan. 

Aku membuka percakapan dengan mereka, terutama tentang alasan mereka mendaftar kerja di pabrik Sai Apparel Grobogan. Keduanya menjawab, “Karena dekat dan tidak perlu merantau,” jawab mereka singkat.

Selang beberapa menit kemudian, Bu Retno datang dan membuka percakapan. Dia juga melempar senyum kepada kami. Seketika tubuh kami berdiri. Bu Retno kemudian meminta berkas lamaran kerja untuk dikumpulkan kepadanya. 

Bu Retno lalu meminta kami juga untuk mengikutinya dari belakang: berjalan menuju gedung lain. Jarak perjalanan agak jauh. Dalam perjalanan kami melihat gedung tinggi. Gedung itu bertingkat tiga lantai, dengan warna bangunan biru dan putih. Saat itu juga aku terkagum, lantaran di daerah kelahiranku, Grobogan, ada sebuah perusahaan besar berdiri. Megah.

Kami diarahkan ke tangga menuju lantai dua. Berhentilah kami di depan pintu yang sudah terbuka. Tepat di depan pintu itulah kami semua diminta untuk berbaris. Untuk pertama kalinya, aku menyaksikan para buruh bekerja. Di depanku mereka semua sibuk menjahit pakaian, ada yang memeriksa hasil produksi, dan beberapa di antaranya melakukan kegiatan yang tidak aku tahu. Semua itu kegiatan itu terjadi di dalam ruang produksi.

Tetiba seorang perempuan datang menghampiri kami. Dia berperawakan tidak terlalu tinggi. Perempuan itu mengenakan jilbab berwarna merah muda dan memakai celana jins. Sementara, di tangan kanannya membawa buku dan tangan kirinya membawa papan berbahan kayu. 

Ia menghampiri Bu Retno dan berbincang-bincang. Aku tidak mendengar obrolan mereka. Durasinya tidak lama, setelah itu Bu Retno memperkenalkan sosok perempuan tersebut kepada kami. 

“Aku kenalkan, ini namanya Mbak Yuli. Dia sebagai recorder nanti kalian akan dipandu untuk ke ruang produksi beserta bagian-bagian karyawan seperti menjahit, Quality Control (QC), Packing dan lain-lain,” ucap Bu Retno.

Recorder merupakan jabatan yang bertugas untuk mengingatkan dan mencatat target produksi yang dikerjakan oleh buruh dari setiap line sewing. Ia juga bertugas untuk mengawasi presensi dan absensi setiap buruh.

Setelah dikenalkan oleh Mbak Yuli, Bu Retno pergi meninggalkan kami. Mbak Yuli kemudian membagi-bagi kami berdasarkan pengalaman kerja. Satu per satu orang dia kelompokan menurut kriteria: pernah menjahit, bekerja sebagai Quality Control (QC), finishing, packing, dan seterusnya.

Sekitar 18 orang mempunyai pengalaman menjahit (sewing), 8 orang sebagai QC–termasuk aku di dalamnya. Empat lainnya memiliki pengalaman packing dan 5 orang berpengalaman kerja di bagian finishing.

Packing merupakan bagian yang bertugas untuk mengemas barang yang akan dikirimkan ke tempat lain. Sementara, finishing merupakan bagian yang bertugas untuk menjahit bagian akhir dari proses produksi pakaian. Sedangkan, QC merupakan bagian yang bertugas untuk memeriksa kelayakan barang dan menjamin kualitas dari produk tersebut.

Kemudian, 18 orang yang memiliki pengalaman menjahit tersebut diminta untuk mengikuti Mbak Yuli ke ruangan produksi. Sisanya, disuruh untuk tetap berdiri dan menunggu di depan pintu.

Bersama dengan dua orang lainnya, yakni masing-masing laki-laki dan perempuan, kami berdiri menunggu kedatangan Mbak Yuli.

Perempuan yang berdiri bersamaku memiliki perawakan tubuh serupa dengan Mbak Yuli. Dia memiliki postur tubuh kecil. Sedangkan, laki-laki yang ada bersamanya memiliki postur tubuh yang tidak terlalu tinggi: mungkin sekitar 163 centimeter. Kepalanya dipenuhi dengan rambut yang telah berwarna putih. Sementara, perutnya buncit dan kulit tubuhnya berwarna putih. Lelaki itu memiliki hidung mancung.

Melihat sosok lelaki itu, dalam hati aku berucap, “Dia tampak sepertinya orang India atau Pakistan ….”

Tiba-tiba, laki-laki tersebut duduk di atas kursi. Di depan tempat duduknya terdapat sebuah meja. Letak meja tersebut tepat berada di depan barisan kami berdiri. 

Mbak Yuli kemudian kembali datang. Dia juga mengenalkan lelaki berambut putih itu kepada kami.

“Ini adalah mister yang biasa disebut Pak e Sanji. Dia adalah manajer finishing. Kalian akan di tanya-tanya satu per satu oleh Pak e,” ucap Mbak Yuli. 

Selama menunggu giliran, kami semua diam tak bersuara. Satu per satu buruh baru dipanggil bergantian untuk ditanya. Aku mendapat giliran terakhir, karena posisi diriku berada di baris kedelapan. Aku dikelompokkan dengan buruh yang memiliki pengalaman kerja sebagai QC.

Dalam proses pemanggilan, aku menyimpan curiga kepada Sanji, karena tampak ada perlakukan yang tidak tepat seperti diskriminasi. Saat itu, dua orang di depan aku dijeda, sehingga aku mendapatkan giliran lebih dahulu maju. 

Sebenarnya tidak ada bukti yang kuat mengarah pada praktik diskriminasi, namun itu hanya perangaiku saja. Pikiranku saat itu adalah, “Apakah karena postur tubuh kedua perempuan di depanku lebih gemuk dan berkulit hitam, sehingga mereka diminta untuk minggir terlebih dahulu?”

Aku sempat tidak tega, kenapa orang di depanku dipinggirkan. Hal itu terlihat jelas dari gestur Pak Sanji, ketika jari tangan kanannya bergerak ke kiri dan ke kanan, sembari menunjuk ke arah dua perempuan di depanku. Aku menafsirkan itulah isyarat dari Pak Sanji untuk meminggirkan mereka agar keluar dari barisan. Dan benar saja, kedua perempuan itu meminggir, setelah itu aku maju ke depan. Sanji lalu menanyakanku tentang pengalaman kerja, nama lengkap, dan usia. 

Setelah rampung, aku diminta untuk kembali ke barisan QC. Dua perempuan yang dipinggirkan tadi, belum juga diwawancarai. Sementara, Pak Sanji malah melanjutkan wawancara pada barisan lainnya: finishing dan packing

Mbak Yuli lalu memintaku untuk mengikutinya dan masuk ke ruang produksi. Aku kembali dipertemukan dengan seorang tuan tenaga kerja asing lagi. Kali ini lelaki itu memiliki perawakan tubuh tinggi, berkumis, hidung mancung, dan berkulit sawo matang.

Mbak Yuli lalu memberikan berkas lamaran kerjaku kepada tuan asing itu. “Siapa ini Yuli?” tanya tuan asing.

“Ini QC baru di-sewing,” ucap Mbak Yuli sembari melempar tersenyum kepada tuan asing.

Setelahnya, tuan asing itu pergi sambil membalas senyum Mbak Yuli.

Mbak Yuli berjalan meninggalkan lokasi pertemuan dengan si tuan asing. Sembari berjalan ia mengatakan, “Kamu sekarang QC sewing, nanti aku akan antarkan kamu ke fider atau Ibu QC-mu,” jelasnya.

“Iya Mbak,” balasku.

Fider merupakan jabatan setingkat di atas operator. Jabatan ini membawahi operator di dalam jajaran struktur kepemimpinan pabrik

Seseorang baru dikenalkan kembali kepadaku. Namanya Mbak Lina. Dia adalah ‘Ibu QC’ atau fider QC. Dia mengajarkanku tentang cara memeriksa barang (checking) dan bahan dengan yang benar. Dia juga mengajarkan tentang cara menghitung panjang pakaian atau bahan dan jahitan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

Di awal masa bekerja aku dijejali banyak pengetahuan baru. Dunia garmen memiliki begitu banyak istilah asing. Kala itu tak terasa waktu berlalu cepat. Jam menunjukkan waktu 12.00 WIB siang hari. Mbak Lina langsung menyudahi pelajaran seketika itu. Dia memintaku untuk pulang, karena hanya setengah hari bekerja. Kemudian dia juga memastikanku agar esok hari Senin kembali bekerja. Mendengar itu, aku hanya membalas dengan mengangguk-anggukan kepala dan kemudian berpamitan pulang.

Lagi-lagi prasangka kembali datang. Kali ini yang aku persoalkan tidak adanya bunyi alarm atau suara sebagai tanda waktu pulang. 

Namun, semua prasangka yang datang aku tutup rapat. Hari itu aku pulang dan melanjutkan perjalanan ke desa tempat kegiatan KKN-ku.

Masa pelatihan atau tranning kujalani selama satu bulan penuh. Upahku dibayarkan per hari sebesar Rp 30.000. Selama satu bulan, aku melaksanakan pekerjaan sesuai dengan sistem yang diterapkan. Aku ditempatkan di salah satu lini produksi nomor lima sebagai QC tengah atau middle

QC middle adalah jabatan yang bertugas untuk mengawasi kualitas barang produksi di bagian tengah pada proses penjahitan. Pengawasan dilakukan dengan ketat sebelum barang hasil produksi digabungkan.

Dalam satu lini produksi terdapat kurang lebih 55 orang. Setiap lini memiliki komposisi jabatan yang terdiri dari: satu orang supervisor, satu orang fider, satu orang dengan jabatan admin (ADM), lima orang dengan tanggung jawab jabatan sebagai QC, dan sisanya adalah operator jahit.

Pada 12 Januari 2022, aku mendapatkan informasi dari recorder untuk kembali mengumpulkan berkas lamaran kerja. Kelengkapan berkas yang harus dikumpulkan sesuai dengan pendaftaran pertama kali untuk perpanjangan kontrak. Berkas itu harus dikumpulkan pada esok harinya, sebagai syarat agar bisa mendapatkan status perjanjian kontrak atau PKWT .

Aku sempat berpikir dan berbicara dalam hati, “Mengapa harus ngumpulin lagi ya? bagaimana nanti jika SKCK sudah mati dan surat dokter sudah tidak berlaku? Terlebih, semua berkas harus diphotokopi dengan menggunakan biaya sendiri. Tapi aku butuh pekerjaan ini,” kesalku dalam hati.

Akhirnya keesokan harinya, aku mengumpulkan berkas lamaran kerja untuk kesekian kalinya. Juga, mengisi form perjanjian PKWT ke recorder. Semua harus dilakukan agar upahku bisa naik sesuai dengan ketentuan UMK di Kabupaten Grobogan: saat itu sejumlah sekitar Rp 1.894.032,10.

Tepat 19 Januari 2022, aku telah memasuki kontrak tiga bulan. Karena status kerjaku berubah sebagai karyawan kontrak, maka waktu kerjaku bertambah. Kini aku bekerja mulai dari jam 08.00 – 16.00 WIB. Tepat di tanggal yang aku sebutkan pula, praktik di jam molor tanpa dibayar atau tidak dihitung sebagai lembur terjadi dalam skala besar.

Dan di saat itu juga aku tidak terima dengan sistem perusahaan yang mengambil hak buruh. Momen itu mengatarkanku pada pertemuan dengan serikat buruh.

Artikel Terkait