Search
Close this search box.

Bayiku Tak Lebih Berharga dari Tali Sepatu

Bayiku tak lebih berharga dari tali sepatu.

“Ah, kamu alasan saja,” tuduh supervisorku ketika aku masuk kerja. Sehari sebelumnya aku tidak masuk kerja karena sakit. Sakit yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter. Dokter menyarankan aku beristirahat karena aku mengeluarkan flek di usia kandunganku yang memasuki lima bulan. 

Namaku Siti Juhaeriyah. Usiaku 36 tahun. Aku merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Bapakku seorang petani yang sudah lama tidak mempunyai sawah. Karena satu-satunya sawah peninggalan mendiang kakekku, yang tidak seberapa luasnya, digadaikan kepada salah seorang tuan tanah bernama Wak Jajuli di kampung. Bapak menggadaikan lahan sawah untuk modal kakakku menikah. Hingga kemudian sawah yang tergadaikan itu tidak kembali menjadi milik kami. Bahkan, ketika aku menikah dan memiliki anak. 

Selepas sawah digadai, kini sehari-hari bapak menjadi petani penggarap. Lahan garapan yang ia kerjakan adalah sawah yang dahulunya adalah miliki keluarga kami. Sebagai petani penggarap bapak diupah dengan sistem bagi hasil berupa beras ketika musim panen tiba. Jumlah hasil beras tidak banyak, namun cukup untuk menutupi kebutuhan makan.

Sebelum menikah aku pernah bekerja di beberapa pabrik: sandal, garmen, dan pembuat tempat tidur. Aku berganti-ganti tempat kerja bukan karena tidak betahan, melainkan karena sistem kontrak kerja pendek. Di pabrik lama tempat aku bekerja, manajemen mengontrakku dalam hitungan enam bulan hingga satu tahun. Kontrak kerja tersebut biasanya tidak lagi diperpanjang ketika memasuki bulan puasa. Kami para buruh kontrak biasanya menjadi sasaran pertama yang dipecat. Entah apa alasan pasti manajemen memecat kami, mungkin karena perusahaan tidak mau membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR). 

Tahun 2008 aku menikah. Kini aku sudah tidak lagi bekerja di pabrik. Setelah menikah aku bersepakat dengan suamiku akan menjadi ibu rumah tangga. Dan, berharap segera hamil agar bisa mengurus anak nantinya. 

Aku menikah dengan seseorang lelaki yang telah memiliki satu anak. Sebelumnya suamiku pernah menikah dan bercerai. Nama suamiku adalah Hamdan. Orang-orang sekitar rumah tempat tinggalku memanggilnya dengan sebutan “Bang Bewok si Penjual Ikan”. Sehari-hari suamiku adalah pedagang ikan keliling. Ia bukan pedangan besar atau agen, namun hanya pedagang kecil yang setiap hari berkeliling dari desa ke desa. Biasanya suamiku membeli ikan di tempat pelelangan dekat tempat tinggalku. Setiap hari tempat pelelangan ikan menjual anek macam jenis ikan laut. Di tempat itu suamiku mencari ikan yang paling murah. Maklum modal kami terbatas, sehingga hasil penjualan ikan setiap hari hanya bisa untuk diputar membeli ikan lagi. 

Aku dan suamiku lahir dan besar di sebuah desa yang terletak agak pelosok di Kabupaten Tangerang. Desaku juga terletak di jalur pantai utara dan berbatasan dengan laut Jawa. Mata pencaharian penduduk di desaku beragam. Utamanya adalah bertani dan berkebun. Sebagian besar hasil kebun atau tani mereka jual sendiri ke pasar atau perumahan-perumahan di daerah Kota Tangerang. Jenis mata pencaharian bertani dan berkebun lebih banyak didominasi oleh kelompok usia tua. Sementara, kelompok anak-anak muda lebih memilih menjadi buruh di pabrik-pabrik manufaktur.

Daerah Tangerang dikenal sebagai kota “Seribu Industri”. Di Kabupaten Tangerang misalnya, daerah ini memiliki lima kawasan industri, yakni kawasan industri: Balaraja, Cikupa Mas, Millenium, dan Laksana Bisnis Park, serta Cileles.1 Kendati dikenal sebagai kota Seribu Industri, menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS), angkat Tingkat Penganguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Tangerang pada Agustus 2020 berjumlah 10,64 persen atau setara dengan 661 orang. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2019.2

Suamiku sebelum menjadi pedagang ikan keliling adalah buruh harian lepas di pabrik pembuat spring bed merek terkenal. Ia bekerja hampir delapan tahun, namun status kerja suamiku tidak berubah; buruh harian lepas. Situasi pelik semakin aku rasakan, kala aku mengandung tiga bulan, perusahaan tempat bekerja suamiku melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Suamiku dipecat dengan tidak mendapat pesangon yang layak. Perusahaan tempatnya bekerja hanya memberikan uang tali asih sebesar tiga bulan upah. Nilai pesangon itu tentu jauh dari ketentuan aturan pemerintah, apalagi menopang kebutuhan harian kami. Hari itu seperti kado pahit yang aku dapatkan bersamaan dengan usia pernikahan kami yang genap enam bulan.

Aku dan suami harus memutar otak agar dapat bertahan hidup. Karena tidak hanya tentang kami berdua, tapi akan ada seorang anak yang dititipkan Tuhan kepada kami. Hingga kemudian kami memutuskan untuk menjual sepeda motor yang biasa kami gunakan. Motor merek Beat laku terjual seharga Rp6 juta. 

Upah penjualan itu hendak kami gunakan untuk membayar lamaran pekerjaan. Kebetulan ada salah satu pabrik alas kaki terkenal sedang membuka lowongan kerja besar-besaran. Nahas memang nasib keluarga kami, rupanya uang hasil penjualan motor tidak cukup untuk membayar calo lamaran kerja. Calo yang kami temui mengatakan: 

“Kalau buat (biaya masuk) laki-laki mahal Teh, harganya Rp10 juta – Rp15 juta-an. Gimana kalau Teteh aja yang kerja? Kalau perempuan Rp5 juta juga bisa masuk. Saya jamin-lah,” desaknya kepada kami. Mendengar ucapan calo seketika semangat suamiku langsung padam. Padahal sebelum sampai di rumah si calo itu, suamiku sudah berkhayal akan membagi upah tiap bulan.

Setelah berunding akhirnya kami memutuskan untuk melepaskan keinginan bekerja di pabrik sepatu tersebut. Padahal, di tempat tinggalku pabrik pembuat sepatu itu cukup terkenal. Banyak yang mendambakan dapat bekerja di pabrik itu, bahkan rela membayar jutaan. 

Akhirnya seminggu kemudian suamiku resmi menjadi ‘Bang Bewok si Penjual Ikan’ keliling. Uang Rp6 juta yang kami punya sebagian disimpan untuk bekal kami lahiran dan untuk keperluan mendadak. Syukurnya kami tidak harus membayar uang sewa untuk tempat tinggal. Kami masih menumpang di rumah orangtua. Lagi pula rumah orangtua masih cukup luas untuk ditempati.

Ternyata berdagang bukan hal yang mudah. Hasil jualan ikan hanya cukup untuk makan. Kondisi semakin susah ketika cuaca memasuki musim angin laut. Belum lagi apabila ada musibah kecelakaan pesawat terbang yang lokasinya dekat dengan tempat pelelangan ikan. Kondisi-kondisi itu akan membuat nelayan sulit mendapatkan ikan. Begitu juga ikan yang dijajakan di tempat pelelangan akan sangat sedikit jumlahnya. Kalau pun ada ikan yang dijual di tempat pelelangan tentu harganya lebih mahal dari kondisi normal. Alhasil, suamiku harus menjual kembali ikan dengan harga yang lebih tinggi. Peningkatan harga jual inilah membuat dagangan suamiku sepi. Akhirnya, seringkali ikan yang semestinya untuk dijual menjadi makanan kami selama berhari-hari. 

Sampai ketika anakku berusia empat bulan. Aku memberanikan diri untuk minta izin bekerja kembali kepada suamiku. 

“Kalau kamu kerja, nanti Amel siapa yang akan ngasuh?” Balas suamiku ketika aku menyampaikan niatku. Perlu diketahui, Amel merupakan anak hasil dari pernikahan suamiku dengan istrinya terdahulu.

“Untuk sementara titip ibu atau titip Mpok aja,” timpalku memberikan solusi. Lagi pula ada ibu dan kakakku yang juga mempunyai anak. Pikirku mereka akan senang hati mengurus Amel. 

“Kalau aku bekerja, nanti hasil jualan ikan buat makan sehari-hari. Gajiku bisa buat tabungan bikin rumah atau buat sekolah Amel,” imbuhku kepada suami. Singkat cerita suamiku mengizinkanku kembali bekerja.

Perlu perjuangan untuk mendapatkan pekerjaan. Setiap hari aku pulang dan pergi mendatangi pabrik-pabrik yang membuka lowongan kerja. Perjalanan panjang dan berputar menelusuri Kota dan Kabupaten Tangerang. Akhirnya di awal 2010 aku resmi diterima bekerja di satu pabrik pembuat sepatu merek Adidas dan Mizuno. 

Kontrak kerja pertamaku selama enam bulan. Meskipun aku hanya sebagai buruh kontrak, tapi aku sangat senang karena kembali mendapat upah tetap. Aku bekerja di bagian printing. Tugasku adalah mencetak logo merek di alas sepatu atau biasa dikenal dengan sebutan insole

Sadar dengan status kerjaku yang hanya buruh kontrak, aku berusaha untuk tidak pernah alpa. Kehadiran merupakan salah satu faktor penilaian bagi buruh kontrak. Aku tidak mau diputus kontrak karena aku butuh pekerjaan ini, karena itu tidak ada kata sakit bagiku. Aku harus keras pada diriku sendiri. Namun, terkadang ada saja kesedihan yang menggelayut di pikiran. Biasanya ketika Amel sakit. Sudah barang tentu ia pasti rewel dan hanya mau dekat bersamaku. Itulah yang membuatku sedih, tapi aku harus tega meninggalkan anakku yang sakit. Semua ini semata-mata untuk keluargaku. 

Suatu hari suamiku harus dirawat di rumah sakit karena penyakit tifus. Sebelum dirawat hampir lima hari badannya panas. Di siang hari badannya tampak normal. Namun, ketika menjelang malam ia selalu merasa mual, muntah, dan menggigil. Lantaran, kondisinya yang semakin memburuk, di hari Minggu aku paksa untuk berobat ke klinik dokter dekat rumah. Setelah melalui pemeriksaan, dokter meminta aku untuk membawa Hamdan ke rumah sakit besar. Dokter bilang suamiku membutuhkan penanganan intensif. 

Senin pagi aku berencana minta izin kepada atasanku untuk masuk setengah hari. Agar aku bisa mengurus keperluan administrasi suamiku di rumah sakit. Karena tidak mungkin mengandalkan orangtuaku yang sudah tua dan tidak paham birokrasi rumah sakit. Sementara kakakku harus menjaga anakku. 

Aku ingat hari itu pukul 06.15 WIB pagi hari. Aku sudah sampai di pabrik dan sengaja tidak membawa bekal untuk sarapan. Pikirku aku bisa mendapatkan izin lebih cepat di pagi hari. Tak lama mandorku tiba: 

“Selamat pagi Pak, mohon maaf saya ganggu Pak,” sapaku dengan perasaan waswas. Pagi itu mandorku sedang sarapan beberapa aneka gorangan: tempe dan pisang. Jajanan itu tersaji di atas meja. 

“Ada apa Siti, tumben pagi-pagi banget udah di dalam. Gak sarapan?” Tanya Pak Agus yang merupakan mandorku. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak terlalu galak. Ia juga sering mengajak bercanda anak buahnya sambil sesekali membantu mengikat matrial yang sudah siap kirim.

“Pak, saya minta maaf. Boleh tidak hari ini saya izin setengah hari? Suami saya dirujuk ke rumah sakit X. Pagi ini rencananya saya mau bawa suami saya,” jelasku sambil menyerahkan surat rujukan yang diberikan dokter klinik.

“Iya sudah. Kamu langsung aja minta izin sama Pak Yono ya. Tapi kayaknya belum datang. Nanti kalau sudah datang kamu langsung aja menghadap,” ujar Pak Agus setelah membaca surat rujukan yang aku kasih. 

Pak Yono merupakan supervisor di bagian printing. Pria ini berperawakan gempal dengan warna kulit dominan putih. Pak Yono dikenal sebagai lelaki gemulai. Dalam keseharian ia juga dikenal sebagai pengawas yang memiliki ‘mulut tajam’, apabila sedang marah. Di pabrik tempat kerjaku sebagian besar buruh mengamini, bahwa meskipun ia seorang laki-laki dan menjabat sebagai leader, mulut seorang lelaki mampu bersaing dengan mulut perempuan. 

Pak Yono pun datang. Seperti dugaanku, ia tidak memberi izin walaupun aku sudah ngemis-ngemis sambil nangis. 

“Kita keteteran produksi, kita harus “kasih makan”. Kalau kita lambat, orang produksi mau makan apa?” Bentak Pak Yono. 

Produksi yang dimaksud oleh Pak Yono adalah bagian cutting, sewing, dan assembling. Beberapa item sebelum masuk ke produksi ada yang harus masuk proses printing lebih dulu. Sementara, maksud istilah kita kasih makan adalah bagian printing harus memasok material yang akan dikerjakan di bagian cutting, sewing, assembling (CSA). 

Meski aku sudah meminta izin semampuku, Pak Yono tidak memberikan izin. Mau tak mau aku harus kembali bekerja. Namun, informasi ini harus segera diketahui oleh anggota keluargaku. Aku merasa tak enak hati, tapi siapa lagi yang bisa membantu keluargaku? Akhirnya kakakku dan suaminya membantu mengurus administrasi ke rumah sakit. Setelah itu suamiku langsung mendapatkan perawatan intensif. Sore hari setelah pulang kerja, aku bergegas ke rumah sakit untuk menjaga suamiku hingga pagi hari.

Persoalan mengurus administrasi rumah sakit terpecahkan. Sekarang aku harus memikirkan siapa yang menjaga suamiku di rumah sakit. Sementara keluarga suamiku tidak ada yang bisa diminta bantuan. Sedangkan aku sudah tak tega untuk meminta bantuan kepada kedua mertuaku. Aku harus mengambil keputusan. Aku bertekad tidak akan masuk kerja. Tapi, aku akan mencoba lagi dengan baik-baik untuk minta izin. Sebenarnya bisa saja aku bolos tapi aku tidak mau seperti itu. Aku tidak mau dipresensiku ada alpa. 

“Pak saya minta izin hari ini tidak masuk kerja. Suami tidak ada yang jaga di rumah sakit dan juga kondisinya masih muntah-muntah. Kakak saya jaga anak saya. Sedangkan orangtua saya sudah tua tidak mungkin diminta untuk jaga di rumah sakit,” jelasku panjang lebar kepada Pak Agus sesampainya aku tiba di pabrik. 

“Saya paham Siti,” kata Pak Agus. “Ya sudah, ayo saya temani menghadap Pak Yono,” lanjut Pak Agus seakan memahami kesulitanku dan berbaik hati membantu. 

“Pak anak saya si Siti hari ini izin nggak masuk kerja. Dia harus jaga suaminya”, ucap Pak Agus mewakiliku untuk menjelaskan kepada Pak Yono. 

“Agus kalau dia kamu izinkan nggak masuk kerja, lalu bagaimana untuk penyelesaian PO (Preorder) xxx? Produksi itu udah harus selesai minggu depan! Suami Siti itu di rumah sakit kan? Di rumah sakit itu ada suster yang jaga! Siti bisa datang sore, sepulang kerja. Jadi nggak perlu seharian menunggu! Apa gunanya ada suster di sana? Menjadi atasan nggak usah terlalu manjain operator, Agus! Nanti mereka ngelunjak ke kamu dan dirimulah yang repot!” Bak petasan menggelegar di dekat kuping. Ucapan Pak Yono bertalu-talu tanpa jeda. Aku dan Pak Agus bengong. 

“Pak tapi suaminya butuh Siti. Lagian selama ini juga Siti tidak pernah absen atau telat. Dan kalau hari ini dia izin saya paham. Karena ada keperluan yang mendesak. Soal PO xxx saya pastikan tidak akan terlambat,” bela Pak Agus. Akhirnya setelah sedikit bersitegang hari itu aku bisa pulang. Dalam hati aku berjanji akan membayar apa yang Pak Agus lakukan hari ini padaku.

***

Di tengah keasyikanku merapikan material yang sudah kering setelah proses printing, tetiba mbak Dini menghampiri dan memanggil, “Siti kamu dipanggil ke meja Pak Yono, ya,”. Mbak Dini adalah admin printing.

“Ada apa ya, Mbak?” Heranku sambil mengernyitkan dahi. Aku merasa tidak membuat kesalahan apapun. Kalau pun kemarin tidak masuk kerja, bukannya sudah atas sepengetahuan Pak Yono?! Bagi buruh sepertiku dipanggil atasan merupakan pertanda buruk. Biasanya akan mendapat teguran karena berkaitan dengan kesalahan. 

“Udah ke sana aja. Oh iya kalau Siti Awaliyah yang mana yah?” Tanya mbak Dini membuatku semakin heran saja.

“Itu mbak-mbak yang pake baju merah; yang deket pintu,” tunjukku ke arah pintu keluar ruangan produksi.

Di depan meja Pak Yono ternyata sudah ada dua orang lainnya. Satu bernama Teh Harni dan lainnya adalah Siti Awaliyah. Di ruangan itu aku dan Siti Awaliyah tidak saling berbicara. Hari itu tampaknya secara tersirat kami memahami satu sama lain. Kami masih menerka-nerka alasan kami dipanggil menghadap Pak Yono.

“Gini ya, mulai hari ini kalian bertiga diperbantukan ke bagian sewing, karena di sana lagi butuh orang. Absen kalian masih di sini (di bagian printing), cuma kerjanya saja yang di sana (bagian sewing). Sana kalian ikut Mbak Dini,” jelas Pak Yono singkat. 

Tidak ada penjelasan untuk berapa lama kami dipindah ke bagian sewing. Begitu juga uraian pekerjaan jenis apa yang harus kami kerjakan di bagian tersebut. Semua tidak ada penjelasan. Tapi mungkin memang kami tidak perlu tahu soal itu. Karena ketika proses melamar kerja, di perjanjian kontrak kerja, dijelaskan bahwa kami siap ditempatkan di mana saja. Ibarat catur kami adalah pion yang hanya pasrah dipindah kemana-mana.

Aku diantarkan menuju ke lokasi plant dua. Aku dibawa ke bagian belakang sewing. Setibanya di ruangan tersebut, aku melihat tiga orang perempuan lainnya yang sedang bekerja. Total perempuan di ruangan ini ada enam orang. Tiga orang perempuan mengelilingi meja besar. Di atas meja ada sekitar dua belas pasang sepatu. Sementara, di samping meja ada sekitar enam karton sepatu. 

“Teh Elni, nih ya anak dari printing, jumlahnya ada tiga orang,” terang mbak Dini kepada perempuan berwajah manis dan ramah. Di hari itu pula aku mengetahui, bawah Teh Elni adalah mandor yang bertanggung jawab di gudang ekspor. 

Gudang ekspor merupakan bagian terakhir dari proses produksi. Semua barang produksi akan bermuara di ruangan ini. Semua sepatu yang telah tuntas uji kualitas dan sudah di-packing akan disimpan di gudang ekspor. Sepatu-sepatu itu lalu didata sesuai dengan ukuran kaki (size), PO, dan negara tujuan pengiriman. Setelah rampung seluruh proses pencatatan itu, nantinya sepatu-sepatu tersebut akan bawa ke dalam kontainer untuk selanjutnya dibawa ke pelabuhan.

“Yaelah si Dini. Lagi-lagi orang hamil dikirim ke sini. hadeuh pusing pala eike,” keluh teh Elni setelah melihat aku dan mbak Harni yang juga dalam keadaan hamil. Dari kami berenam, yang ada di ruang gudang, empat di antaranya dalam kondisi hamil. 

“Orang hamil mah emang orang buangan Teh. Kami harus siap dibuang-buang. Entar kalo abis lahiran baru deh kami direbutin lagi,” jawab salah seorang perempuan yang menggunakan daster bunga-bunga warna pink. Perempuan itu aku tidak kenal, karena itu aku hanya mengingat penanda pakaiannya saja. Tapi aku setuju dengan apa yang si perempuan daster bunga-bunga sampaikan. Di tempatku bekerja, kami para perempuan hamil seperti tenaga cadangan di line produksi tempat kami bekerja. Hanya karena kami hamil, kami dianggap tidak produktif. Padahal walaupun kami sedang hamil, jika berbicara kecepatan kerja, kami bisa bersaing seperti yang lain. 

Aku mendapatkan tanggung jawab di bagian bongkaran. Bagian bongkaran bukan merupakan jenis pekerjaan permanen di pabrik ini. Bagian bongkaran dibentuk, apabila pabrik mendapat kembalian atau istilahnya “costumer return” sepatu oleh pemesan karena sesuatu hal. Pekerjaan kami adalah membongkar sepatu tersebut untuk diperbaiki. Perbaikan bisa saja dilakukan pada proses penjahitan (sewing) atau perakitan (assembling). Semua tergantung jenis kerusakan yang harus diperbaiki. 

Mungkin sekitar enam hari aku bekerja di bagian bongkaran. Setelah itu pada hari ketujuh, aku mendapat kembali informasi dari mbak Dini, bahwa aku resmi dimutasi ke sewing cell VI. Karena aku sudah bisa menjahit maka di bagian sewing, aku ditempatkan di bagian menjahit tongue atau lidah. Tongue adalah salah satu bagian dari proses pembuatan sepatu. Penamaannya mengikuti bentuk pola jahitan. Dalam bagian sepatu, lidah berada di bagian sisi tengah, tepatnya di bawah tali sepatu. 

Meskipun aku dipindahkan beberapa kali, cara kerjaku masih sama. Aku berusaha menjadi buruh yang baik: tidak pernah alpa kalau tidak ada keperluan mendesak. Aku juga tidak pernah telat masuk kerja dan berusaha bekerja semaksimal mungkin. Lagi-lagi aku sadar aku butuh pekerjaan ini. Namun, sejujurnya aku tidak tahu status kontrak kerjaku sebagai apa sekarang. Apakah sebagai buruh kontrak atau lainnya? Kalau melihat masa kontrak kerjaku, durasi kontrak sudah habis, tapi aku juga belum diberitahu apakah aku diangkat menjadi buruh tetap atau sebagai kontrak?! 

***

Aku tidak dapat mengingat kejadian hari itu. Mungkin hari Senin atau hari Selasa. Sekitar Desember 2011. Desember tahun itu memang sedang banyak lemburan. Hampir tiap hari di line produksiku selalu lembur. Bahkan hingga hari Sabtu, yang semestinya bekerja setengah hari. 

Tapi aku masih ingat waktu kejadiannya. Ketika lembur pukul 19.00 WIB. Ketika aku bekerja, perutku terasa sakit sekali, tapi aku tahan. Setelah itu, sekitar pukul 21.00 WIB, ketika aku kencing tiba-tiba ada flek yang keluar bersamaan dengan urinku. Malam itu, aku paksakan terus bekerja hingga waktu pulang tiba. Tak tahan dengan rasa sakit perut, setibanya di rumah, aku bergegas mengajak suamiku ke untuk ke klinik dekat rumah. Aku ingat usia kandungan sudah memasuki bulan kelima.

“Ibu kecapean. Nanti usahakan jangan jahit kerjanya ya, Bu,” nasihat dokter yang memeriksaku malam itu.

“Saya kasih istirahat satu hari ya. Ibu gunakan waktu tersebut untuk istirahat. Jangan cape-cape bekerja ya, Bu,” lanjut nasihat doker seraya memberikan saya salinan resep dan selembar surat dokter. Aku mematuhi nasihat dokter untuk beristirahat. Aku titipkan surat dokter ke tetanggaku yang sama-sama bekerja di pabrik tempatku bekerja.

Ketika aku masuk kerja setelah mengambil waktu istirahat, aku melihat mbak Ir. Aku biasa memanggilnya begitu. Hari itu ia sedang membersihkan mesin jahit yang biasa aku gunakan untuk bekerja. 

“Pagi Mbak. Jadi Mbak Ir yang gantikan saya saat nggak masuk?” Tanyaku sambil memasukan tas dan bekalku ke dalam bangku. Bangku yang kami duduki memang selain berfungsi sebagai tempat duduk juga menjadi loker. Bangku kerja kami dimodifikasi. Setiap bangku diberikan papan. Sementara, di antara tiang-tiangnya ditutupi oleh kain, sehingga bangku terlihat lebih rapih. Fungsi kain selain mempercantik kursi kerja, juga membuat barang yang berada di dalam kursi tidak akan terlihat. Jadi, sebenarnya pabrik pembuat sepatu merek internasional, untuk urusan penyimpanan barang pun mereka tak sudi untuk menyediakannya. 

“Eh, udah sehat Sit?” Sapa Mbak Ir sambil membersihkan mesinku.

“Alhamdulilah Mbak, udah baikkan. Makasih ya, Mbak udah gantiin saya,” ucapku sambil tetap berdiri di samping mesin yang biasa aku pakai. 

“Iya Sit sama-sama. Eh tapi aku diminta mbak Mar tetap di sini, Siti.” Mendengar jawaban itu tiba-tiba dadaku terasa sesak. Jantungku berdegup seketika. Kaget mendengar jawaban mbak Ir. Pikiranku mulai berasumsi, jika benar mbak Ir akan mengantikan posisiku, bagaimana dengan aku? Akankah aku masih tetap di sini? Aku butuh pekerjaan.

Tidak lama bel sebagai penanda waktu mulai kerja berbunyi. Sementara, aku tetap berdiri di samping mesin dan mbak Ir bersiap-siap untuk kerja. Aku tahu mbak Ir merasa tidak enak terhadapku. Tapi, aku butuh kepastian pekerjaan. 

Dari kejauhan aku melihat sosok perempuan bernama mbak Mar. Ia adalah pengawas kerjaku. Perempuan itu kini berjalan perlahan ke arahku. Firasatku mengatakan dia akan menemuiku. Sejauh ini aku tidak pernah mendapat teguran langsung dari mbak Mar. Ia berperawakan tinggi, kurus, dan sedikit agak tomboy. Mbak Mar juga dikenal cuek terhadap orang di sekitarnya, tapi kalau sudah marah kata-katanya pedas. 

“Juher kamu kemarin kenapa nggak masuk?” Tanpa basa-basi mbak Mar langsung menegurku sesampainya ia di dekat mesin kerjaku.

“Sakit Mbak. Air kencingku mengeluarkan flek. Kata dokter aku disuruh istirahat dulu,” jelasku.

“Ah! banyak alasan kamu! Kalau mau kerja bener-bener, nggak usah banyak alasan! Ini bukan pabrik nenek moyangmu! Udah kamu ikut saya!” Hardik mbak Mar mengabaikan alasanku. Saat itu, aku tidak menjawab apapun dan hanya tertunduk mengikuti langkah mbak Mar di depan. 

Sesampainya di bagian ruang assembling sisi belakang, ia tiba-tiba memberikan penugasan: “Kamu bantuin di sini. Kalau mau kerja bener nggak usah banyak absen. Ingat kamu kerja itu dibayar!” Bentak mbak Mar.

“Fajar! Nih si Juher kamu ajarin dulu,” perintah mbak Mar sebelum meninggalkan tempatku. Hari itu aku kembali dipindahkan ke bagian lain. Kali ini aku ditempatkan di bagian assembling. Di bagian ini pekerjaanku adalah “nali”. Kami biasa kami menyebutnya begitu. 

Pekerjaan “nali” adalah proses pemasangan tali ke dalam sepatu yang sudah selesai produksi. Tahap ini dilakukan sebelum sepatu melalui tahapan pengecekan kualitas (quality control/QC). Setelah melalui tahapan QC, sepatu akan dikemas (packing) dan setelah itu dibawa menuju gudang ekspor. Proses menali dilakukan dengan posisi kerja berdiri. Karena posisi kerjanya berdiri membuat kakiku berkali-kali merasakan kejang otot. 

Hampir dua minggu lebih aku bekerja memasang tali sepatu. Setiap pulang kerja kakiku bengkak dan perutku sering mengalami kram. Setiap pulang juga aku harus merendam kakiku dengan air hangat dan menyelonjorkan kedua kakiku. Proses membentang kaki ini aku lakukan selama 10 – 15 menit. Sebelum nantinya aku melakukan aktivitas lain. 

Sampai suatu hari sepulang kerja aku merasa ada yang tidak beres dengan perutku. Gejalanya dimulai saat perjalanan pulang: mendadak perutku terasa sakit. Setibanya di rumah perutku terasa begitu melilit. Kuputuskan untuk pergi ke kamar mandi. Gumpalan darah mengalir dari area vaginaku. Aku menjerit meminta pertolongan kepada suamiku untuk segera membawaku ke dokter. 

Pandanganku kabur. 

Ketika sadar aku berada di sebuah ruangan. Aku mendengar suara dokter yang biasa aku dengar di rumah sakit. Dalam suara lirih dokter menyatakan aku keguguran. Penyebabnya adalah kecapean. Singkat cerita dokter memberiku surat izin untuk istirahat selama tiga hari. Dokter juga memberikan surat keterangan, bahwa aku mengalami keguguran. Ini adalah anak pertama yang kami inginkan sejak menikah. Aku hanya bisa menangis. Setiap mengingat kejadian itu tetiba air mataku selalu berlinang. 

Tiga hari berlalu dengan cepat. Rasa sakit akibat dikuret masih terasa. Kuret adalah proses pembersihan janin di dalam rahim dengan mengunakan alat berbahan logam.3 Aku merasa belum fit. Tapi surat dokter hanya memberi istirahat tiga hari. Entah bagaimana perhitungan dokter aku tidak mengerti. Operasi organ dalam sebesar itu hanya diberikan waktu istirahat tiga hari. Padahal, kata temanku, buruh yang keguguran berhak cuti selama satu setengah bulan. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku khawatir pekerjaanku digantikan oleh orang lain.

Pagi itu aku memaksakan diri. Dengan tertatih-tatih bersiap untuk kerja. 

Ketika masuk pabrik, aku merasa asing. Aku tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Sedangkan bagian kerja ‘nali’ sudah ada lima orang. Dua di antaranya sedang hamil. Namun, aku tetap putuskan untuk bekerja di bagian ‘nali’.

Sekitar jam 08.00 WIB, mas Fajar menghampiriku, “Teh Siti dipanggil mbak Mar tuh.” Aku paham alasan aku dipanggil. 

“Tiga hari kamu nggak masuk kerja. Apa lagi yang jadi alasan kamu Juher?” Berondong mbak Mar tepat sesampai aku di meja kerjanya. Mbak Mar mengabaikan yang wajahku pucat dan langkah gontaiku yang menahan sakit. Jangankan untuk menyampaikan duka cita, basa-basi pun tidak dia ucapkan.

“Saya keguguran Mbak. Dokter memberi saya istirahat. Surat dokternya sudah saya titipkan sama tetangga saya anak cell 2 dan katanya sudah Mbak Mar terima,” jelasku.

“Ah kamu banyak banget alasannya! Sakitlah! Keguguranlah! Besok-besok apa lagi alasanmu, Heh?” Aku hanya bisa berdiri membisu di hadapannya. Segala ucapannya yang menyakitkan tak ada yang aku dengar. Kepalaku justru memikirkan hal yang lain.

Setelah kejadian itu aku kembali dipindahkan ke cell 1. Kini aku bekerja untuk mengelem sepatu. Sepatu yang aku kerjakan bermerek Adidas. Tak hanya mengelem aku juga mengerjakan pekerjaan marking. Selain itu, aku juga menempelnya dengan cara menggetok dua permukaan lapisan dengan menggunakan martil. Tujuannya agar bentuk komponennya bagus. Setiap jam aku harus mencapai target yang telah ditentukan. Jumlahnya sebanyak 120 pasang per jam. Awalnya pekerjaan ini dikerjakan oleh tiga orang, tapi setelah manajemen pabrik menerapkan kebijakan sistem one piece flow, proses kerja yang harusnya dikerjakan oleh tiga orang menjadi hanya satu orang.

 Pekerjaan berat itu mau tak mau harus aku kerjakan. Meskipun aku tahu kondisi tubuhku tidak dalam keadaan fit setelah keguguran beberapa hari lalu. Di bagian ini hampir seluruh waktuku terenggut. Aku tidak bisa pergi kemana-mana, bahkan ke kamar mandi sekali pun. Begitu juga untuk izin mengambil minum, rasanya begitu sulit. Apalagi izin untuk salat ketika waktu memasuki Asar. Semua tidak bisa dilakukan atau mendapatkan izin dari pengawas. Sebab, kata pengawas tidak ada pengganti orang. 

Ada sebuah pengalaman yang aku saksikan. Kala salah seorang buruh keluar kerja untuk salat. Setibanya si buruh ke tempat kerja, ia langsung mendapat omelan dari supervisor.

Aku hanyalah seorang perempuan dengan pendidikan tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kalau saja aku bisa memilih lahir dari kondisi keluargaku yang berkecukupan, tentu aku memilih untuk di rumah dan tidak bekerja di pabrik. Menjadi istri dan sekaligus ibu yang fokus mengurus anak dan suamiku. Tapi, keadaan memaksaku untuk bekerja di pabrik agar bisa bertahan hidup dan menghidupi keluargaku. Sedangkan, manajemen pabrik hanya memandangku sebagai benda yang bisa dipindahkan sesukanya. 

*Tulisan ini merupakan salah satu rangkaian cerita dari catatan Nonon Cemplon yang berjudul “Kumpulan Cerita di Balik Tembok Pabrik”. Sebagai penulis Nonon Cemplon menangkap detail dari pergulatan batin kawan-kawannya selama memperjuangkan hak-hak mereka di PT Panarub Dwi Karya.

Referensi


  1.  Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/daerah/2021/10/11/kabupaten-tangerang-kawasan-industri-niaga-dan-permukiman-favorit-kaum-urban. Diakses pada 19 Juni 2023. ↩︎
  2. Badan Pusat Statistik. https://tangerangkab.bps.go.id/pressrelease/2020/11/18/44/agustus-2020–tingkat-pengangguran-terbuka–tpt–sebesar-10-64-persen.html. Diakses pada 19 Juni 2023. ↩︎
  3. Alodokter.com. https://www.alodokter.com/kuret-ini-yang-harus-anda-ketahui. Diakses tanggal 19 Juni 2023. ↩︎

Artikel Terkait